Kamis, 25 Juli 2019

Ketika Kami Tahu Scoliosis

Sepertinya sudah menjadi habit saya untuk kembali ke blog ini di saat keadaan terasa tidak menyenangkan. Mungkin karena saya tidak terlalu bisa untuk mengungkapkan apa yang saya rasakan pada orang lain, mungkin di sini, saya bisa lebih bebas mengeluarkan apa yang ada dalam hati dan pikiran. Mungkin itu juga yang menyebabkan saya mempertahankan blog ini, walau bertahun-tahun tidak disentuh, bayarannya tetep jalan, jadi blognya masih eksis hingga hari ini ☺

Berawal dari bulan puasa kemaren, saat kami mudik ke Padang, tiba-tiba andung nanya, uni kok punggungnya gak simetris ya? kok tulang belikatnya yang kanan nonjol, sementara yang kiri enggak. Saya deketin Najla dan cek punggungnya, iya ya beda, saya pegang, Najla biasa aja, gak ada rasa sakit atau nyeri. Trus saya inget dia suka bawa tas di sebelah kanan, tas sekolahnya ampuuuun berat banget!! jadi saya pikir mungkin itu otot yang terbentuk karena dia bawa beban buku berat bertahun-tahun. efektif sejak kelas 6 SD hingga kelas 8 kemaren tasnya itu asli berat banget. Yahanda juga berpikiran sama, cuma nyaranin Najla untuk ganti bawa tas di sebelah kiri, biar otot yg kiri juga berkembang. Case closed. 

Setelah lebaran, kami balik ke Pekanbaru. trus gak lama, andung telpon, andung cerita kalo andung barusan ketemu teman yang anaknya menggunakan pen di punggung, yang awalnya keliatan seperti punggung Najla, besar sebelah. Trus andung suruh saya cek Najla ke dokter, jangan-jangan something wrong dengan punggung Najla. Mendengar itu, saya langsung daftarkan Najla untuk cek ke dokter tulang. Karena kami pake jaminan inhealth, kami ke dokter umum dulu ya untuk  minta rujukan ke dokter tulang. Saat cek di dokter umum itulah dokter menyatakan kalo Najla suspect scoliosis dan langsung dirujuk ke orthopedi. 

Jujur, ini sesuatu yang asing buat  saya. Saya gak paham scoliosis itu apa dan bagaimana. saya langsung googling tentang scoliosis, dan saat saya mulai paham garis besarnya, saya langsung down. Bener-bener gak nyangka dan sesaat itu juga asking my self, why? why me? why Najla? salah Najla apa? salah kami apa? Kenapa Najla diberi cobaan seperti ini? Najla yang selama ini terlihat baik-baik saja, tiba-tiba di diagnosa scoliosis, saya harus bagaimana? kedepannya nanti gimana? udah deh, segala pikiran buruk berkecamuk di dada, di kepala. Tapi tetep saya berusaha untuk tenang dan  mengendalikan diri. Saya teruuuuuuus gogling tentang scoiliosis, cara penanganannya, apa yg harus dilakukan, bagaimana pengobatannya, apakah butuh terapi, apakah butuh perawatan secara continue., apakah nanti anak saya punggungnya bisa lurus kembali? Saya juga berusaha mencari komunitas scoliosis, di masa sekarang dimana ada berbagai macam komunitas, saya yakin scoliosis pasti juga ada komunitasnya. Saya kunjungi beberapa blog yang bercerita tentang scolioser. 

Setelah dapat rujukan, kami bawa Najla untuk konsul ke orthopedi hari Jum'at tanggal 19 Juli 2019,  setelah di cek, dokter minta Najla untuk di x-ray hari itu juga. Biasalah ya, namanya di rumah sakit, semua serba antri. Kami datang ke RS jam 11 siang selesainya jam 5 sore, seharian, iyesssss... 
Hasil x-ray menyatakan tulang belakangnya melengkung dengan sudut curve 43 derajat.  Dokter merujuk Najla untuk fisioterapi, menyarankan renang, menggunakan brace untuk menahan agar tulangnya tidak semakin miring dan melakukan latihan untuk memperkuat otot belakang. 

Kami pulang ke rumah dalam diam
Saya tau, Najla juga gak paham apa arti scoliosis tapi dia juga berusaha untuk mencerna apa yng sebenarnya terjadi pada dirinya. Dia ikut mendengar ucapan dokter, dan saya paham semua begitu tiba-tiba buat dia. Semua pasti terasa berat untuk dia. Tapi Najla is Najla. Si Introvert yang hanya akan bersuara ketika di tanya, yang akan bersuara kalo sudah sangat menyakitkan buat dia. Kalo cuma sekedar pegel, linu, pusing, paling dia cuma bilang, " bunda, uni kayaknya pusing" Saya mesti baweeeeeeel nanyain perkembangannya. "Masih pusing un, sekarang yg dirasa apa? ada perubahan gak setelah minum obat tadi?". Kalo nggak ditanyain gitu, dia dieeeeeem aja dengan sakitnya, ntar tiba-tiba demam panas tinggi sampe 40 derajat. Kalo Najla sakit, saya bawel wanti-wanti, "Un, kalo ada rasa aneh2 segera kasih tau bunda ya, kalo tiba-tiba badannya terasa dingin kasih tau bunda ya, jangan dibiarin, nanti tiba-tiba demamnya naik, kita repot nak. tolong ya, kasih tau bunda kalo uni ngerasain sesuatu yang gak enak". 

Dan dengan vonis dokter tadi, saya berusaha untuk tidak terlihat panik di depan Najla. Saya berusaha untuk terlihat biasa-biasa saja dihadapan dia. Saya berusaha untuk langsung terlihat berjuang di depan dia. saya bilang, "It's oke, kita jalani aja ya. Banyak kok anak-anak yang kayak Uni, dan rata-rata memang seusia uni, karena scolio ini memang mengintai anak perempuan se-usia uni. Tiap tahun jumlah scolioser itu meningkat 4% - 5%. Jessica Mila yang artis aja scoliosis kok". Alhamdulillah saya udah sempat banyak baca-baca saat googling, saya punya informasi menenangkan yang bisa disampaikan ke Najla, dan kebetulan saat googling saya menemukan berita kalo artis cantik itu juga scolioser. Saya lihat mata Najla berkilau saat saya bilang Jessica Mila juga scolioser. Dia tersenyum dan bilang "iya ya Bunda? scolio juga? " iya beneran, googling aja coba kalo gak percaya. Cantik-cantik scolio, jadi artis pulak. Saya melihat kecerahan diwajahnya saat itu. Terimakasih ya Allah, semoga dia kuat dan kepercayaan dirinya tidak jatuh. 
 

TRAVEL AROUND AND STAY FOR A WHILE Template by Ipietoon Cute Blog Design