Minggu, 25 Januari 2015

English Friday: #4 Grab A Tool From Doraemon's Magic Pocket

Okay, this is my first time trying to write in English. A week ago, I joined Blog English Club (BEC). This club is very interesting. Beside we have to speak in english all the time at chit chat room, BEC has a challenge for all members called English Friday. And this friday, the challenge is writing about grab a Doraemon's Tool. Hoho, it's cool!

Doraemon, I knew him since I was in junior high school, around 1992. I accidentally watched the movie since my little sister always watched it on TV. Then it's become my favorite TV programme that I won't missed every sunday morning at that time.


I like all Doraemon's tool. But if  I had a chance to grab in his pocket , I want to borrow the time machine. But in this challenge, this tool is excluded, so I can't borrow it, poor me. Let's think about another tools. Yup, I found it, I want to borrow Pintu Kemana Saja. Sorry, I don't know how Doraemon call this tool in english, anywhere door? I'm not sure. So, let me call it just Pintu Kemana Saja, okay? :)

So many reason why I really want to pick-up Pintu Kemana Saja from Doraemon's magic pocket, especially  because it can help me to go  anywhere, anytime. So I can visit any place as  I will. 

First reason, you know, my husband live in different town, we just meet twice a month. Usually my husband who visited us here, me and the kids. The journey is not only requires energy but also needs money, huhuhu. So it makes sense if I really want this door since it can help us to save time and expenses, hoho. 

Then, due to company policy where my husband works, we have to move within 2-3 years. It's not easy to move home. We have to pack before leave and unpacking in new town. Looking for transportation such as trucks to bring goods, and other things related to relocation. Such a hard work to do. If  I had Pintu Kemana Saja, I dont need to be worry of all. Just open the door, in a second, I can move here and there, what a lovely life.

Doraemon, let me grab your Pintu Kemana Saja, please....

photo: duniamhimi.com

Rabu, 21 Januari 2015

Jujur itu Penting!

Kamis lalu, seperti biasa, Najla bawa raket badminton ke sekolah, untuk dimainkan saat jam bebas setelah pelajaran olahraga. Pulang sekolah, Najla lapor dengan wajah takut plus sebal. Gimana enggak, pulang-pulang raket yang tadinya dibawa sepasang gak ada yang kembali dengan utuh. Satu raket hilang, menurut Najla raket itu dipinjam paksa oleh dua orang temen laki-lakinya. Lalu satu raketnya dipinjemin lagi ke anak laki-laki  lain kelas oleh salah satu dari yang minjem maksa tadi. Najla nggak kenal anak kelas lain itu. Najla yang basicly pendiem cuma bisa ngeliatin raketnya di oper. Sementara raket satunya lagi, kembali dengan keadaan beberapa senarnya putus, nggak bisa dipake lagi. Huh... Hahh.... Bunda tarik napas dalem-dalem demi mendengar cerita Najla sambil ngeliatin raket yang rusak.

Sebagai orang tua pastinya kesal, sebal, marah jadi satu. Karena kejadian seperti itu tidak sekali dua kali terjadi. Selalu saja ada barang-barang Najla yang tidak kembali setelah "dipinjam" oleh temannya. Masih mending kalo minjem baik-baik, ini dengan lancang ngambil sendiri dari kotak pinsil di meja.

Sedikit yang menggelitik, apa anak-anak yang suka "meminjam" barang teman ini tidak pernah diajari untuk mengembalikan lagi barang pinjamannya? Apa orangtua tidak memperhatikan barang yang dibawa pulang oleh anaknya? Apa orangtua tidak mengenal mana barang milik anak dan mana yang bukan? Apa anak-anak itu tidak diajari adab meminjam serta bagaimana memperlakukan barang pinjaman itu? 
Mungkin sekarang banyak yang menggampangkan dan berpikir, ah biasa... namanya juga anak-anak.

Dalam kasus Najla, nyata-nyata raket adalah barang yang cukup besar dan pasti kelihatan.  Gak bisa disembunyiin dari pandangan orangtua saat melihat anaknya sepulang sekolah. Apa orangtua anak yang membawa raket Najla, tidak mempertanyakan dari mana dia mendapatkan raket? Jika dia bertanya dan anaknya jawab bahwa itu raket temennya, apa orangtuanya tidak meminta anak untuk mengembalikan?

Sebagai orangtua, kita tidak bisa membiarkan saja hal seperti ini.  Karena sekecil apa pun, perilaku-perilaku ganjil ini akan berpengaruh pada habit anak nanti. Memang sekarang anak hanya suka meminjam tanpa ijin benda-benda kecil temannya seperti pinsil, bolpen, penghapus, tip ex, rol. Karena tidak ada kontrol dari orang tua bisa jadi kebiasaan itu akan berkembang menjadi suka "meminjam" yang lebih besar jadi ambil buku, bahkan uang. Seperti yang juga pernah Najla alami, kehilangan buku cetak serta uang di sekolah.
Biasa karena terbiasa. Jadi jangan heran kalo gedenya nanti anak jadi pembohong, pencuri atau koruptor.

Sebagai orangtua, rasanya penting buat kita untuk mengajarkan anak bersikap jujur dalam segala hal. Dimulai dari hal-hal kecil seperti meminjam. Pertama, orangtua harus perhatian pada anak. Kenali barang milik anak. Jika melihat barang baru, pertanyakan asalnya. Kalau anak bilang barang itu pinjaman, perintahkan anak untuk mengembalikan barang itu secepatnya. Ajari anak untuk minta ijin pada empunya, tidak mengambil paksa. Dengan begitu diharapkan anak bisa bersikap jujur dan menghargai milik orang lain. Tanpa disadari, sedari dini kita sudah menanamkan satu hal penting dalam diri anak yang akan dibawanya hingga dewasa nanti, kejujuran.

Pssttt... satu lagi nih Moms, jadi orangtua dari anak yang kehilangan barang itu, sakitnya tuh disini (nunjuk kantong.


Sabtu, 27 Desember 2014

Day 2, Senin 22 Desember 2014

Sore ini agendanya mau ke bukit Welcome To Batam, lanjut ke Jembatan Barelang, jembatan yang menghubungkan beberapa pulau besar dan kecil di Batam. 
Begitu Yahanda balik dari kantor trus ganti baju, kita langsung cuuuusss beragkat. Bukit yang ada tulisan Welcome To Batam itu letaknya persis di belakang komplek perumahan kita, tapi untuk kesana tetep mesti pake kendaraan. Sampe sana kita langsung ambil poto buru-buru karena takut kemalaman nyampe Barelang nanti.

Pas lagi poto-poto kita didatangi sebuah motor yang dikendarai seorang anak remaja tanggung. Dengan nyantainya anak itu mencoba minta retribusi masuk. Padahal di sana nggak ada loket pungutan apa-apa karena daerahnya itu berupa areal terbuka dan gak ada apa-apa selain tulisan Welcome To Batam itu. Yahanda dengan tegas menolak dan bilang kita tinggal di bawah, mendengar itu si remaja tanggung langsung pergi tanpa ba bi bu lagi.  So, buat yang pengen ke sana, siap-siap aja didatangi oknum pungli ini ya. Karena sepertinya mereka berkelompok. Sedikit waspada dengan keadaan ini.

Selesai ngambil beberapa poto kita lanjutin perjalanan ke Jembatan Barelang. Sayangnya cuaca mulai memburuk. Sepanjang jalan ke Barelang awan yang tadinya abu-abu mulai menggelap. Dan bener deh, hujan deras menyambut kita bahkan sebelum masuk ke jembatan satu. Oiya, jembatannya itu ada 6 buah. Paling besar kayanya ya jembatan satu ini, tempat yang sering dijadikan orang spot untuk poto-poto. Meskipun hujan deras kita masih lanjutin perjalanan hingga jembatan 4, berharap cuaca bersahabat dan hujan reda secepatnya. Tapi hingga jembatan 4, hujan masih saja deras. Akhirnya kita putar balik aja di sana karena udah mau maghrib juga. Rencana mau lanjut ke kampung Vietnam yang notabene udah deket juga mau gak mau di cancel. Karena rasanya emang udah nggak mungkin meneruskan perjalanan dalam hujan lebat seperti itu. Kita nggak bisa turun mobil dan nggak bisa liat apa-apa juga sesampainya  di sana nanti
.
Tapi asli Bunda masih penasaran pengen ke Kampung Vietnam. Semoga next time ada waktu deh mengunjungi Barelang dan Kampung Vietnamnya lagi. Kita sampe rumah pukul hampir pukul 8 malam. Shalat magribnya tadi nyinggah di Mesjid, nggak keburu kalo di rumah. Udah gitu berhenti dulu beli bakso untuk Najla yang kena efek cuaca dingin, jadi pengen makan yang anget-anget.
Sampe rumah ketok-ketok pintu, si  Tita lama banget bukain pintu eh ternyata... tarraaaaa.... si Tita buka pintu sambil bawa cake coklat menggiurkan komplit dengan beberapa batang lilin kecil yang udah menyala diatasnya.  Hohoho... yups, this is my bornday, my birthday, dan Tita beliin Bunda cake ultah. Syukurlah tanpa lilin angka jadi Bunda nggak usah khawatir ngelihat angkanya. lol.

Tiup lilin, potong cake lalu makaaaannn.... duh, tengkiu ya Tita, my sweet little sister. Cakenya ennaakk banget. Coklat, seperti yang Bunda selalu suka. 

see? nggak ada apa-apa di sini, oknum pungli bisa berani-beraninya minta retribusi masuk areal ini. 

Selasa, 23 Desember 2014

Day 1, Minggu 21 Desember 2014

Pagi ini semua bangun telat.

Najla bangun jam 8, Shaqeela bangun jam 10! Hohoho... efek capek kemaren masih berasa sampai pagi ini. Kepala Bunda juga agak nggak enak karena bangun siang. But mesti tetep ke pasar nih, karena dari kemaren udah janji sama Yahanda mau bikinin sambalado tanak :)  Nasib jadi emak, kemana-mana tetep ngerangkap jadi koki.
Bunda ke pasar Mega Legenda sama Tita. Wuihhhh si Tita bawa motornya kuenceeengg. Bunda jadi bawel ngingetin plissss jangan kenceng-kenceng, takuuutt... Si Tita malah nyengir aja. Sampe pasar, muter-muter nyari bahan, dan harganya lumayan mahal semua. Apalagi cabe masih 85 ribuan sekilonya. Baiklah... BBM emang cuma naik 2 ribu rupiah tapi efeknya belanja ke pasar 200 ribu cuma bawa pulang sayuran, ikan asin dan cabe. Ups sori, kebiasaan curhatnya keluar.

Selesai belanja, langsung pulang dan lanjut masak. Otomatis siang ini kita nggak kemana-mana. Pulihin tenaga dulu walau pada kenyataannya tenaga Bunda emang belum pulih karena langsumg nge-chef, huhuhu. Malemnya, semua segar bugar. Gimana enggak, semua pada tidur siang bablas hingga pukul 17.30an. shalat ashar pada buru-buru karena udah diujung-ujung waktu. 

Malam ini kita sight seeing ke Nagoya Hills Shopping Mall. Kompleks pertokoannya luas. Sayangnya kita jalan ke sini malam hari,  jadi Bunda nggak bisa cuci mata ke kompleks pertokoan yang terkenal dengan barang branded baik original maupun KW-an . Bunda cuma bisa liatin yang di Mall aja, padahal katanya nih kalo mau belanja enakan di pertokoannya. Harganya miring abis. Oke deh nggak papa, besok-besok mesti balik kesini lagi, hihi.

mejeng dulu depan Mall-nya, hihi
 

Batam, Here I come!

Horeeee... liburaaaann....!

Hari yang ditunggu akhirnya datang juga. Najla udah bagi raport di MDTA tapi di skul belum, katanya sih raportnya belum selesai di isi. Yah, harap maklum aja karena raport kurikulum 2013 "katanya lagi" juga ribet ngisinya. Sedikit kecewa karena harapan bisa liat hasil belajar Najla di skul semester ini gagal. Tapi... kecewanya segera terobati karena Sabtu, 20 Desember kemaren tiket ke Batam udah fix.
Kita berangkat dari rumah pukul 14.15 siang, agak terburu-buru karena jadwal pesawatnya pukul 15.20. Untungnya bandara nggak jauh dari rumah, nggak nyampe 10 menit kita udah di bandara. Cepet-cepet check-in dan langsung masuk pesawat. Fiuhhh... tarik napas lega.

Alhamdulillah pukul 16.20 kita udah landing di Bandara Hang Nadim, Batam. Disambut gerimis. Yahanda yang udah nunggu di parkiran, segera jemput kita ke terminal kedatangan. Begitu naik ke mobil, hujan deras turun. Huaaa... serba Alhamdulillah untuk hari ini. 

Dari bandara kita langsung menuju rumah di daerah Batam Centre  perjalanannya kurang lebih 20-30 menit. Lumayan capek karena dari pagi Bunda ngeberesin rumah di Pekanbaru dulu biar aman ditinggal. Malamnya, meskipun capek kita harus keluar, nyari makanan. Laperr...   Rame-rame semuanya (Yahanda, Bunda, Tita, Najla dan Shaqeela) ke Mega Mall, pilihan jatuh ke warung Tekko. Ngeliat meja orang-orang yang udah didatengin makanan perut langsung kriuk-kriuk minta di isi. 

Beneran deh ke sana cuma buat makan, padahal banyak yang bisa dilihat di Mega Mall. Capek membuat hasrat cuci mata udah nggak ada. Najla dan Shaqeela juga udah lemes, ngantuk setelah makan kenyang. Bunda juga udah ngebayangin bantal, duh enaknya. Jadi abis makan, kita langsung balik ke rumah. istirahat. Perjalanan di lanjut besok aja.
 

TRAVEL AROUND AND STAY FOR A WHILE Template by Ipietoon Cute Blog Design