Senin, 16 Desember 2013

Semoga Allah Melindungimu


Pukul 09.00, mentari bersinar sangat terik sedari pagi seolah ingin menghisap habis sisa-sisa hujan yang seminggu ini memayungi langit. Aku diperjalanan pulang dari pasar, seperti biasa, membeli kebutuhan dapur untuk satu minggu. Jalanan tidak begitu ramai, hingga di salah satu pertigaaan Jalan Harapan Raya lampu merah menyala, aku berhenti. Tiba-tiba mataku tertumbuk pada sesosok anak laki-laki usia remaja, memakai baju abu-abu dan celana selutut abu tua, sebuah tas kecil terselempang membalut tubuhnya. Duduk sendiri di pembatas tengah jalan, bermandi peluh ditimpa matahari. Anak itu menatap kosong ke langit, kemudian tersenyum entah dengan siapa, masih menghadap langit. Ya Allah, seketika hati ini menyadari, anak laki-laki itu keterbelakangan mental. Dari balik kaca mobil kucoba kulihat ukuran tubuhnya normal, tapi sepertinya dia punya masalah dengan kaki, dengan jarak seperti sekarang dengan dua mobil berada di depan, aku tidak bisa melihat dengan begitu jelas bagaimana rupa kakinya, kaki itu terlipat dan sesekali ia selunjurkan, mungkin untuk menghilangkan penatnya duduk di pembatas jalan itu. Lampu hijau menyala, saat melewatinya kulontarkan selembar uang ke arahnya, pikirku mungkin ia adalah penghuni baru pertigaan ini. Karena setelah hampir setahun melewati jalan ini untuk mengantar dan menjemput anakku ke sekolah dan berbelanja ke pasar, baru kali ini dia terlihat.  Biasanya yang mangkal disini sepasang suami istri dengan suaminya yang buta dan seorang ibu yang menggendong bayi berkeliling meminta belas kasihan pengendara yang terhenti di lampu merah ini.

Pukul 11.00, lagi-lagi melewati jalan Harapan Raya, mengantar sulungku sekolah. Sepulang dari mengantar si kakak, kembali aku dihadang lampu merah pertigaan itu. Kali ini aku berhenti tepat di depan anak laki-laki tadi, dia masih duduk ditempat yang sama, dengan posisi yang sama. Allah, aku bisa melihat dengan jelas, selain keterbelakangan mental, kakinya cacat, bentuknya pipih dan bengkok. Aku yakin dia tidak bisa berjalan dengan kondisi kaki seperti itu. Lalu siapa yang meletakkannya disini? Terpanggang matahari yang semakin terik. Anak siapa dia? Tidak mungkin dia bisa tiba-tiba duduk di tengah pembatas jalan dua jalur ini. Dengan kondisi mental seperti yang terlihat rasanya juga tidak mungkin dia berinisiatif ngesot ketengah sini, menyeberangi jalan yang lumayan ramai dilalui motor dan mobil. Gerakannya pasti sangat terbatas, akalnya tidak memungkinkan dia untuk berfikir bisa berada ditempat ini. Pasti seseorang yang sengaja membawa dan meninggalkannya ditengah-tengah sini. Keringat bercucuran, menghisap debu jalan dan asap kendaraan yang lalu lalang tiada henti karena jalur ini lumayan padat setiap harinya. Lampu hijau menyala, kupacu kendaraan menuju rumah dengan harapan ada yang segera mengambil dan membawanya pulang. Ya Allah lindungi anak itu.

Pukul 13.30, aku menjemput si kakak dari sekolah. Karena ujian sudah selesai hari Sabtu kemaren, hari ini kegiatan di sekolah tidak begitu banyak, jadi pulang lebih cepat dari biasanya. Melewati jalan Harapan Raya, mendekati pertigaan, mataku mencari-cari si anak lelaki berbaju abu, tidak kutemukan dia di tengah jalan. Aku lega berarti dia sudah pergi atau sudah diambil oleh orang yang meletakkannya di sana. Baru saja kata syukur terucap dari bibir ini, tiba-tiba mataku menangkap seorang laki-laki berdiri di badan jalan sebelah kiri, menenteng remaja berbaju abu, ya menenteng bukan menggendong, karena dia memegangi bagian ketiak anak itu kiri dan kanan, posisi tubuhnya menggantung, pasti rasanya tidak nyaman sekali dengan posisi seperti itu. Sepertinya pria itu hendak menyeberang, kulajukan kendaraan pelan-pelan melewati mereka, kuamati, wajah pria setengah baya yang menenteng itu sangat mirip dengan si bocah abu. Sepertinya itu ayahnya. Duh…hatiku mencelos, rupanya pria ini yang telah tega meletakkan anak malang ini di tengah jalan.
Sepulang dari sekolah, pastinya aku kembali melewati pertigaan itu. Di sana, anak laki-laki itu duduk di posisi semula, sendiri, berteman debu, asap dan sinar matahari.
Aku kehabisan kata untuk diucapkan dalam hati, tiga kali bolak balik melewati jalan ini sedari pagi, membuka matahati. Mungkin pergi dari dunia ini akan lebih baik baginya, berada disisi-Nya, daripada harus hidup disia-siakan seperti itu, dijadikan pengemis. Teganya! Tabah ya nak, semoga Allah selalu melindungimu, memberi yang terbaik buatmu. Kau tahu Nak? Sebenarnya surga telah menantimu.

Kamis, 05 Desember 2013

Galau Mode : ON

It's December!

Hampir setahun kami di Pekanbaru, tepatnya 7 Januari besok hari jadi 1 tahun di kota ini. Semuanya baik-baik saja, hingga tadi sore Yahanda terima SMS dari Bapak pemilik kontrakan. Yup, resiko sebagai penduduk nomaden, dimana-mana kami harus mengontrak rumah. Entah kapan bisa menetap di rumah sendiri, tanpa harus pindah-pindah lagi. Pertanyaan yang tidak butuh jawaban sebenarnya. Yahanda akan tetap muter seperti ini hingga pensiun nanti. Jadi yaaa... selama kami masih ingin tetap berdekatan tinggal dalam satu rumah, Bunda dan anak-anak harus ikut kemana saja Yahanda dimutasikan, yang berbanding lurus dengan kepindahan demi kepindahan. Duh, malah curhat?

Jadi... tadi Bapak kontrakan mengingatkan bahwa batas kontrak kami hampir habis. Sebenernya tanpa diingatkanpun kami ingat kapan kontrakan ini berakhir.  Kami sudah terlatih dalam hal kontrak mengontrak seperti ini. Delapan tahun menikah, tujuh tahun kami habiskan berpindah dari satu kontrakan ke kontrakan lain, dari satu kota ke kota lain.

Lalu masalahnya apa sekarang?
Masalahnya, kami bingung memilih untuk meneruskan kontrakan atau mencari rumah lain alias move on dari sini. Di SMS-nya si Bapak menyatakan harga sewa naik 1 juta dari tahun kemaren, di luar deposit, hmm... kontrakan pake deposit loh. Maksudnya deposit di sini adalah kami menaruh uang pemeliharaan rumah sebesar 1 juta kepada si Bapak. Gunanya uang itu untuk biaya pemeliharaan. Jika dalam masa kontrak kami rumah ini ada yang rusak, kerannya jebol, service AC, pompa air ngadat dan lain-lain, biaya perbaikannya dibebankan kepada kami, dengan memotong deposit yang satu juta tadi. Saat kami keluar dari kontrakan, sisa deposit (jika terpakai) akan dikembalikan. Kalau tidak ada yang rusak ya selamatlah deposit yang sejuta itu kembali ke tangan dengan utuh.

Tapi so far, kalau ada yang rusak-rusak gitu, untuk tenaga tukang segala macem, kami tidak perlu repot lagi mencari, si Bapak sudah punya tukang langganan. Beliau tinggal panggil, hup, tukangnya dateng. Enak sih, tidak merepotkan. Tuuuh kann... kejadian deh cerita keluar jalur lagi.

Jadi, karena uang kontrakan naik sejuta, Bunda sama Yahanda ragu, mau diteruskan atau bagaimana. Karena jika dilihat dari kondisi rumah yang berupa rumah petak, dua kamar, ukuran pas-pasan, rasanya jumlah segitu nggak cocok, kemahalan. Ini aja barang-barang Bunda sampe sekarang masih ada yang ngendon manis dalam kardus, tersusun di ruang tamu yang merangkap ruang keluarga rangkap ruang tivi. Kebayang kan pengapnya rumah kami? Kamarnya nggak pake ventilasi. Untung ada AC. Kalo nggak, huadduhhh... bisa berkuah setiap malam tidur di kamar yang ga ada celah buat udara keluar masuk. Sirkulasi udara itu hanya dari pintu masuk depan dan pintu dapur di belakang. Then, no jendela or ventilasi lain. Nekat banget yak bikin kontrakan? Beginilah situasi dan kondisi perumtak (Perumahan Petak) yang di bangun berjejer 8 unit yang kami tempati.

Trus, kok bisa tinggal disini?
Kami pindah kesini terburu-buru. Harus mengejar semester baru. Biar Najla nggak repot menyesuaikan diri dengan pelajaran di sekolah. Kebetulan SK mutasi Yahanda keluar pas saat ujian semester sedang berlangsung di Palembang. Dan ternyata di Pekanbaru sudah selesai. Ketika sekolah Najla di Palembang terima raport dan libur, disini malah sudah masuk lagi. Jadi kami benar-benar dikejar deadline untuk segera pindah kesini. Sementara Yahanda belum bisa berangkat pindah karena harus menyelesaikan kerjaan yang gantung di kantor. Jadi urusan mencari kontrakan Yahnda minta tolong pada salah satu sodara jauh, daannn rumah inilah pilihan terbaik yang didapatkan oleh sang sodara pada saat itu. Terlepas dari ukurannya yang mini, kondisi rumah ini oke, bersih, lantai full keramik, dapur walaupun mini banget tapi komplit dengan bak cuci piring dan tempat kompor, kamar mandi bersih, sumber airnya berupa sumur yang dikasih pompa otomatis, jadi nggak khawatir air mati atau kekurangan dimusim kemarau. Cuma ya kuat-kuatin aja liat tagihan listrik hehe. Dibelakang ada kran untuk selang mesin cuci, jemuran juga ada. Lokasinya juga deket dari kantor, sekolah, dan mesjid. Strategislah. Mungkin faktor yang Bunda sebutin belakangan ini yang membuat si Bapak berani pasang tarif mahal untuk kontrakannya.

Terlepas dari itu semua, yang bener-bener bikin Bunda galau itu ya Najla. Kalo kami pindah nyari kontrakan lain, nanti ngajinya gimana? Najla baru aja mulai akrab dengan teman-teman di MDTA-nya. Iya, karena najla sekolah di SD Negeri yang belajar agama cuma dua jam. Jadi untuk menambah pengetahuan agamanya, Bunda masukin Najla ke MDTA. MDTA ini berada di sebuah mesjid yang deket banget dari rumah, cuma berjarak 5 rumah dari kediaman kami.  Kalo sekolah sih nggak masalah, Bunda bisa anterin seperti biasa, tapi kalo MDTA? akan sangat repot dan melelahkan buat Najla jika harus tetap di MDTA yang sekarang. Karena jeda waktu antara pulang MDTA dengan jadwal sekolah Najla itu cuma 2 jam. MDTA jam 07.30-10.00. Sekolahnya dari jam 13.00 siang. berangkat dari rumah sekitar pukul 12.30an. Lalu kalau kami mencari rumah baru, yang rasanya nggak akan ada di sekitar sini, karena kemarin-kemarin kami udah berusaha nyari alternatif kontrakan yang deket sini tapi nggak dapet, otomatis mesti nyari diluar lingkungan sekarang. Nah kalo MDTA-nya dipindahin ke yang deket dengan rumah baru nanti, kasihan Najla harus kembali beradaptasi dengan teman baru, lingkungan baru, ustad baru lagi. Selain itu, Najla juga bisa kecapean tiap hari harus menempuh jarak jauh dari rumah ke MDTA, trus lanjut sekolah tanpa bisa istirahat dulu. 

Duh...bener-bener galau tingkat dewa ini. I really dont know what to do.

 

TRAVEL AROUND AND STAY FOR A WHILE Template by Ipietoon Cute Blog Design