Senin, 28 November 2016

RIP

Hari ini,
Semua kenangan tentangmu
Mengalir keluar satu persatu
Kenangan yang selama ini
Tersimpan dalam diam
Dalam hati
Dalam album foto lama
Yang tertutup di 1998
Yang rasanya berat untuk kembali dibuka

Kau tumpahkan cinta
Tanpa melihat apa siapa
Kau curahkan kasih
Yang tak sanggup tuk ditolak,
Ataupun diingkari
Rasa yang kau punya,
Nyata dan tulus adanya

I'm so sorry
Aku tak berusaha menghubungimu
Aku tak berusaha keras mencari tahu tentangmu
Aku tak berusaha untuk menyampaikan rindu ini padamu
Aku tak berusaha untuk sedikit menyapamu
Aku tak berusaha tuk katakan bahwa aku baik-baik saja
Aku tak berusaha menjaga cintamu

Kukatakan kini,
Aku baik-baik saja
Kau tak perlu khawatir
Aku menyelesaikan sekolahku
Seperti janjiku padamu
Kau ingin aku menekuni teknologi informasi bukan?
Aku memenuhinya
Semua yang terjadi padaku saat ini
Adalah karenamu
Berawal darimu
Kau pahlawanku
Pembela hidupku

Aku selalu ingin membuatmu bangga
Seperti dulu
Aku selalu ingin membuatmu merasa tak sia-sia menyayangiku
Karena aku tahu, dalam hatimu, kau memang menyayangiku..

Aku tidak menghilang
Aku bukannya tak ingat
Aku tidak melupakan
Aku masih di sini, merindumu
Tapi aku terlalu takut mengganggu
Aku takut hadirku tak disukai
Aku takut merusak hari dan hatimu
Terlalu banyak rasa takut yang kutelan demi menekan rasa ingin mendengar suaramu.

Dalam diam, kurangkai do'a untukmu
Dalam diam, kupupuk harapan tuk melihat lagi senyummu
Dalam diam, kuingat selalu lembut tanganmu merawatku
Dalam diam, kumenangis, merindumu

Kau ingat?
Aku sakit, demam,
kau terjaga sepanjang malam disisiku
Menyuapiku makanan dan obat
Aku tak kan pernah lupa saat itu
Tidak pernah
Sama sekali, tidak akan.

Dan hari ini,
Semua menjadi penyesalan yang amat dalam
Bodohnya aku tak pernah mencoba
Bodohnya aku tak pernah berani
Untuk menanyakan, apa kabarmu?
Apakah kau baik-baik saja?
Apa yang kau butuhkan?
Rindukah kau?

Maafkan aku
Maafkan aku
Maafkan aku.

Semua tentangmu,
akan selalu ada di sini
di hati,
sepanjang hidupku
I love you, really really love you
RIP, pa...

27-11-2016,10.42 phi

Kamis, 01 September 2016

Akupunktur!

Menyambung cerita hari selasa, rabu pagi saya ke RSCM untuk konsul ke dokter spesialis akupunktur, sueeerr saya baru tau bahwa akupunktur adalah salah satu cabang ilmu kedokteran. Selama ini saya taunya akupunktur itu pengobatan tradisional, bukan medis. Ternyataaa, akupunktur termasuk medis dan ada dokter spesialisnya. Saat masuk ke klinik akupunktur, dokter menjelaskan banyak hal yang membuka mata saya terhadap pengobatan akupunktur. 

Akupunktur bisa dipake untuk anestesi dalam tindakan operasi, trus juga anti nyeri pasca operasi/tindakan, mengatasi nyeri kanker. Banyak penderita kanker yang dirujuk ke akupunktur berhasil ditolong mengatasi rasa nyerinya. Penyakit yang berhubungan dengan syaraf, misal syaraf terjepit yang membuat bagian tubuh ngilu/sakit, mengatasi alergi/meningkatkan imunitas, menurunkan berat badan, banyak deh, termasuk untuk urusan kecantikan. Teman-teman bisa konsul ke klinik akupunktur untuk lebih jelasnya. Hanya saja, untuk melakukan pengobatan dengan akupunktur, kita harus disiplin dan sabar. Karena pengobatannya tidak instant, butuh waktu lumayan lama. Satu seri pengobatan terdiri dari 12x terapi. Minimal 2x seminggu. Jadi untuk satu seri aja bisa menghabiskan masa 6 minggu. Itupun dalam satu seri belom tentu udah sembuh. Ada yang butuh 1 seri, 2 seri bahkan lebih. Tergantung jenis dan stadium penyakit, respon tubuh terhadap akupunktur serta daya tahan tubuh. Pengobatan akupunktur bekerja pelan tapi ada peningkatan dalam setiap langkahnya. Kurang lebih seperti itu yang dijelaskan dokter seputar akupunktur kemaren.

Trus, setelah membaca rujukan dari dokter bedah mulut dan lab alergi, saya ditanya-tanya sama dokter akupunkturnya. Setelah mendengar semua penjelasan saya, dokter langsung bilang, "oke bisa bu. Kalo emang nanti ibu gak ada yang cocok obat biusnya, kita siap untuk mendampingi saat prosedur pencabutan gigi". Waaahh, saya langsung lega, plong, dan tersenyum lebar. Yakin banget senyum saya lebar hihi. Trus saya di tes logam dulu. Tes alergi logam. Karena saya belum pernah di akupunktur sebelumnya, harus di tes dulu jarumnya. Saya alergi gak dengan jarum akupunktur yang mau dipake. Sekalian kenalan dengan rasa tusukan akupunktur. Awalnya sih deg-degan, dengan bawel saya tanyain, "ntar rasanya kayak apa dok, trus nanti ada efek lain apa dok? Ada efek melayang-layang gak?" Dokternya malah ketawa dengerin pertanyaan saya . Trus dokter bilang rasanya hanya seperti kesetrum dikiiit banget, kayak kesemutan, trus sakit dikit, sakit minimal lah, dan gak ada melayang-layangnya. "Kenapa bu? Trauma ya?" Saya langsung nyengir denger dokter bulang trauma. Iya, bener, saya trauma dengan tes alergi kemaren yang bikin saya terbang melayang, gemeteran, dingin, lemes. Dokter lain juga menimpali, katanya kalo ntar udah kenal sama jarum akupunktur malah jadi ketagihan, gak mau lepas. Walah! 

Finally, jarumnya ditusukin. Di kedua tangan, di areal antara jempol dan telunjuk. Dikaki, juga antara jempol dan telunjuk, trus di kuping kiri dan rahang kiri, daerah gigi saya yang mau di cabut. Pertama kali ditusuk, saya kaget sedikit. Rasanya emang seperti kesetrum tapi keciiiil banget. Trus juga sedikit ngilu/kaku. Tapi rasa itu minimal banget, tidak mengganggu dan jauuuuuuuh lebih bisa diterima dibanding saya harus minum obat 

Ditunggu sekitar 15-20 menit. Trus jarum-jarumnya dilepas. So far, sepertinya tidak ada masalah. Kulit saya bersih, gak ada bentol, merah atau gatal. Tapi dokter tetep bilang untuk liat reaksinya ntar malam. Karena ada tipe alergi lambat, alerginya gak muncul pada saat itu juga, munculnya setelah beberapa jam kemudian. Tapi pagi ini, alhamdulillah kulit saya gak ada perubahan apa-apa. Semoga ini pertanda baik, amiin ya rabbal alamin...


Urusan di akupunktur selesai, tinggal memberikan jawaban itu ke poli gigi dan lab. Bulan depan saya tes lagi, untuk scandonest. Kalo scandonest masih gak bisa, berarti saya pake akupunktur. Sebenernya pengen sih langsung pake akupunktur aja, tapi saya masih butuh tes obat. Kita gak tau apa yang akan terjadi di depan. Jadi saya perlu tau, obat bius scandonest itu cocok gak buat saya.

Oiya, tambahan info nih buat teman-teman pemegang kartu inhealth mandiri. Pengobatan akupunktur di cover oleh inhealth, tapi tergantung perjanjian inhealthnya juga ya. Yang pasti untuk perusahaan logo timbangan, kalo mau ke akupunktur, biayanya di cover inhealth dengan syarat ada rujukannya. Jadi bukan kita yang ujug-ujug minta diobati dengan akupunktur ya. Tapi ada rujukan/pengantar dari dokter yang sedang menangani kita bahwa dalam tindakan pengobatannya dibutuhkan terapi/tindakan akupunktur, gitu. Seperti kasus saya nih, mau cabut gigi tapi gak bisa pake obat bius dan obat anti nyeri, maka dirujuk ke akupunktur. Nah ini biayanya di cover oleh inhealth. Lumayan yaaa.. Karena kalo untuk terapi aja, satu kali datang itu biayanya paling murah 95 ribu. Kalo satu seri terapi berarti 12x95 ribu. Untuk kasus saya, jelas harganya beda lagi.

That's it, cerita seputar gigi dan teman-temannya hari ini. Mohon do'a teman-teman untuk kesembuhan saya 

Selasa, 30 Agustus 2016

Tes Provokasi Obat 1, Obat Bius, Lidocain

Sebelumnya saya minta maaf sekaligus berterimakasih atas perhatian dan do'a teman-teman di facebook. Karena ke'alay'an saya update status pagi ini jelang melakukan tes, banyak diantara teman-teman yang bertanya-tanya, saya sakit apa? Bukan bermaksud untuk membuat khawatir atau cari perhatian, pagi tadi, jujur saja, saya merasa takut yang teramat sangat menghadapi tes ini. Karena saya akan menghadapi hal yang paling tidak nyaman, paling tidak enak buat saya. Saya butuh support semangat. Biar nggak makin bingung ini saya cerita apaan, takut apa, kok kesannya serem gitu yah . Saya ceritain di sini dari awal.

Sebenernya sederhana aja, saya sakit gigi. Apa siiiih sakit gigi aja kok ribet banget? Kesannya sakit parah sampe berdo'a segala, minta kekuatan segala, kan tinggal ke dokter gigi atau kalo mau lebih bisa ke dokter bedah mulut, beres kan? Tapiii... kasus saya tidak sesederhana itu.

Gigi geraham bawah saya bolong dan udah ditambal beberapa tahun lalu. Saya tidak ingat lagi pastinya kapan, kira-kira 5-8 tahun yang lalu deh. Lama banget kaan. Selama itu gak pernah ada masalah kecuali sedikit nyeri kalo dipake untuk mengunyah makanan yang agak keras. Jadi selama itu saya hindari ngunyah yang keras-keras di geraham yang ada tambalan. Saya cenderung lebih sering make rahang sebelah kanan untuk makan.

Trus, sekitar akhir Januari 2016, tiba-tiba geraham itu sakit. Mulai dari sakit sedikit sampe sakit yang sangat mengganggu. Akhirnya saya bawa ke dokter gigi untuk di cek. Dokter nyaranin untuk dibuka dulu tambalannya trus diliat ada apa. Ternyata yang bermasalah adalah bagian akar, dokter pun melakukan tindakan perawatan akar gigi. Setelah beberapa kali perawatan dan saya sudah tidak merasa sakit, giginya kembali di tambal. Tapi 1-2 bulan kemudian, gigi saya sakit lagi, setelah di cek dan konsultasi, dokter nyaranin agar giginya di cabut aja. Karena kalo dipertahankan, sakitnya akan bolak balik datang dan efeknya juga bisa kemana-mana. Salah satunya vertigo yang kemudian tiba-tiba muncul setelah saya sakit gigi. Dari Februari hingga sekarang, saya mengalami vertigo sebanyak 3x dan jelas aja kondisi ini sangat tidak nyaman ya.  Saya tidak tau pasti apakah benar gigi ini yang menyebabkan saya vertigo, dokter juga tidak bisa memastikan karena penyebab vertigo itu beragam. Tapi kalo diliat dari riwayat saya yang sebelumnya gak pernah kena vertigo, jadi ada kemungkinan pencetus vertigo adalah geraham yang sakit tadi. Semua jadi susah dan ribet, saya jadi ketergantungan tingkat tinggi pada orang lain, karena vertigo bisa muncul kapan aja di mana aja. Syukurnya ada mama yang mendampingi saya. Kalo saya sakit, biasanya bisa berlangsung selama seminggu - 2 minggu bahkan pernah sampe 1 bulan gak bisa nyetir karena keliyengan, mama yang ambil alih tugas anter jemput anak-anak ke sekolah dan ngebantu kerjaan lain di rumah. Hidup saya mulai terasa melelahkan. Sebentar-sebentar pusing, sakit kepala, vertigo. Tidak hanya itu, solusi cabut gigi yang harusnya jadi penawar, malah berbalik membuat urusannya jadi panjang.

Beberapa tahun belakangan ini, tubuh saya sensitif terhadap obat-obatan,  saya gak bisa minum obat begitu aja. Tubuh saya bereaksi negatif terhadap obat. Kalo minum obat, saya merasa pusing, jantung berdebar, keringetan, melayang dan tubuh kebas (gak ada rasanya), kayak mau pingsan. Jadi selama ini, kalo sakit dan harus minum obat, saya tes dulu obatnya. Saya minum obat sedikit-sedikit dulu, mulai dari seperempat tablet ( 1 tablet dipotong jadi 4 bagian), lalu saya cicil minum seperempat tablet. Kalo rasanya aman, gak ada reaksi apa-apa dalam 15-20 menit, saya minum lagi seperempat tablet, begitu terus hingga potongan ke empat habis. Jadi untuk  1 tablet habisnya 1 jam  dan menurut dokter, untuk tujuan pengobatan, cara seperti ini tidak maksimal. Dan memang, kalo sakit, saya sembuhnya lama. Ya karena itu tadi, obat tidak bekerja dg maksimal, tidak bisa bekerja sebagaimana mestinya, karena saya nggak bisa minum obat sesuai dosisnya. Sementara agar obat itu bisa bekerja, harus menggunakan dosis yang sesuai. Dan dari hasil coba-coba tadi, setiap sakit dan butuh obat saya praktekin cara minum obat seperti di atas, saya menemukan baaaanyaaaaak obat gak bisa diterima tubuh saya. Dosis tertinggi yang aman buat saya, dalam sekali minum itu bisanya cuma 1/2 tablet aja. Lebih dari itu, saya keliyengan dan kondisi itu benar-benar menakutkan. Saya harus menguatkan hati, menguatkan pikiran, fokus menenangkan diri agar tidak terbawa efek samping obat tadi. Jujur saja, pada akhirnya, minum obat adalah hal paling menakutkan buat saya. Saya takut mengalami efek sampingnya tadi. Sumpah, gak enak banget. Serasa mau pingsan, dan itu bisa berlangsung berhari-hari.

Then, untuk melakukan cabut gigi, butuh obat bius sebelum dicabut, dan obat anti nyeri setelah di cabut. Lah gimana mau ngebius kalo paracetamol aja saya sanggupnya cuma seperempat tablet sekali minum? Karena itulah dokter bedah mulut yang merawat saya gak berani untuk melakukan tindakan cabut gigi. Resikonya besar  dan bisa berakibat fatal. Jadi, sebelum cabut gigi, dokter menyarankan untuk melakukan tes provokasi obat dulu. Tes untuk mengetahui obat bius apa yang aman buat saya dan bisa digunakan dalam proses cabut gigi nanti. Di Pekanbaru fasilitas tes ini belum ada. Saya udah keliling rumah sakit Pekanbaru untuk nanyain tes ini, gak ada. Yang ada hanya tes alergi biasa. Tes alergi yang efeknya begkak, gatel, merah, sesak napas. Tes untuk kondisi sensitif terhadap obat (efek samping berlebihan) seperti yang saya alami ini belum ada. Akhirnya, saya di rujuk ke RSCM. Karena di departemen alergi dan imunologi RSCM, tes ini tersedia. Peralatannya lengkap. Kalo terjadi apa-apa dalam prosedur, ada dokter, peralatan, obat dan lain-lain untuk menstabilkan kondisi.

Saya udah konsul ke dokter di klinik alergi kemaren, dan dijadwalkan tes tadi pagi jam 9. Dokter menjelaskan panjang lebar tentang prosedurnya dan apa saja yang akan saya hadapi. Seperti cerita saya dipostingan sebelumnya, perut saya langsung ngilu mendengar efek tes ini nanti. Yaa karena kan udah jelas bahwa tubuh saya bereaksi negatif terhadap obat, lah ini obatnya malah mau dimasukin sedikit-sedikit ke dalam tubuh lewat suntikan, lalu diliat reaksinya gimana. Jelas saya jadi stress duluan, karena saya tau banget, andaikan obat ini nggak cocok, saya akan mengalami reaksi berdebar, melayang dan kebas. Walaupun dokter udah menyiapkan seluruh peralatan untuk mengatasi, tetap saja, saya akan mengalaminya dulu, merasakannya dulu, baru kemudian diatasi dengan peralatan dan obat-obat anti alergi yang ada. That's why, tadi pagi saya galau banget. Sebelum ke rumah sakit, saya shalat sunat dulu, meminta perlindungan dari Allah. Sampai di rumah sakit, saya masih takut. Saya coba untuk mengalihkan pikiran dari hal-hal buruk, dzikir dan sesekali buka fb hingga akhirnya update status seperti tadi 

Pukul 9.30 wib saya dipanggil masuk ruangan prosedur, kembali dokter menjelaskan tentang prosedur tes dan lagi-lagi saya tidak bisa menyembunyikan kekhawatiran. Dokter dan perawat menenangkan dengan mengatakan hal-hal baik dan berusaha membuat saya tertawa. Ada 2 orang dokter yang mendampingi, dokter Kurniyanto, dokter Agus beliau ini spesialis alergi, satu orang perawat dan 3 orang dokter muda yang lagi belajar. Saya jadi objek belajar kasus alergi untuk dokter-dokter muda itu .

Obat bius yang akan di tes ke saya adalah lidocain. 
Tahap pertama, yang disuntikin 0.001 mg lidocain (diencerkan dg Nacl). Nunggu 15 menit. Tahap pertama ini aman, gak ada reaksi apa-apa. 
Lanjut tahap kedua, disuntikin 0.1 mg lidoccain campuran. Masih aman. 
Berikut tahap ketiga, disuntikin 0.01 mg lidocain murni, tanpa campuran, masih aman, alhamdulillah.
Tahap keempat, dosisnya dinaikin lagi, 0.1 mg lidocain, masih aman juga. Next

Tahap kelima, disuntikin 0,5 mg lidocain, awalnya aman, tapi lima menit kemudian saya mulai merasa gak enak. Seperti biasa, diawali dg bagian dalam perut saya terasa dingin, lalu dinginnya keluar tubuh, naik ke kepala, dan tuuuuiiing....! Saya langsung melayang, jantung berdebar, dan napas saya sesak. Dokter dan perawat buru-buru mendatangi saya. Mereka sibuk, ngasih oksigen, cek oksigen di ujung jari, saya gak tau namanya apa, tapi menurut dokter alat kecil yang ditempel di ujung jari itu menghitung jumlah oksigen yang masuk ke syaraf, cek tensi, cek denyut jantung, dokter juga berusaha menangkan saya yang udah mulai panik.  Yahanda juga berusaha membantu menenangkan. Selama ini saya berani minum obat kalo ada yahanda aja. Kalo yahanda gak ada, saya gak akan minum obatnya. Saya tunggu dia pulang dulu, baru saya minum obat 


Alhamdulillah, perlahan kondisi saya membaik, napas mulai normal, dokter memberikan cetirizine untuk mengatasi reaksinya. Dan cetirizine inipun cuma minum seperempat tablet dulu. Lima belas menit kemudian, minum seperempat lagi. Tindakan jaga-jaga andaikan nanti cetirizine bereaksi negatif lagi di tubuh. Alhamdulillah perlahan mulai stabil. Tubuh saya gemeteran, telapak kaki dan telapak tangan dingin. Saya denger dokter Kurniyanto menelpon seorang dokter dan dari percakapannya saya denger dokter itu akan ke ruangan. Tidak lama, dokternya datang. Namanya dokter Iris Rengganis. Beliau masuk dan saat mendengar penjelasan dari dokter Agus dan dokter Kurniyanto, beliau langsung paham dan dokter Iris memberi solusi menggunakan akupunktur jika nanti ketemu jalan buntu. Jika tidak ada obat bius atau obat anti nyeri yang bisa di pake maka saya akan dibantu oleh dokter akupunktur. Alhamdulillah, masih ada jalan lain....

Untuk melakukan tes dengan obat bius lain, saya harus nunggu satu minggu. Karena tubuh saya harus bersih dulu dari obat anti alergi yang saya minum (cetirizine tadi). Hah, ini artinya perjalanan gigi saya masih panjang. Saya nggak mungkin di sini selama seminggu. Yahanda mesti kerja dan saya kangen anak-anak 
Setelah konsultasi dengan dokter, mengingat kondisi kita di sini, suami kerja, anak-anak ditinggal, diambil keputusan kami akan bolak balik ke RSCM minimal sebulan sekali untuk melakukan tes berikut.

Begitulah, besok saya mau konsul dulu ke dokter akupunktur. Jadi dalam kasus gigi ini, saya melibatkan tiga bagian di RSCM untuk melakukan rawat bersama atas diri saya. Ada poli gigi (dokter bedah mulut), dokter di departemen alergi dan dokter akupuntur 


Mohon do'anya ya teman-teman, semoga saya ketemu obat yang pas dan gigi saya bisa di cabut tanpa halangan. Aamiin ya rabbal 'alamiin. Silahkan di share, mungkin ada kenalan, saudara atau keluarga yang mengalami hal yang sama dengan saya. Kasus seperti ini sangat jarang terjadi, dan tidak banyak rumah sakit yang menyediakan fasilitas tesnya. Tesnya sendiri termasuk dalam tes alergi, tapi bukan alergi biasa. Kalo alergi biasa, lazimnya, jika seseorang tidak cocok dg makanan atau obat tertentu, efek ke tubuhnya timbul bengkak, bentol merah, atau sesak napas hingga bunyi grok grok (mengi). Pada kasus saya, lebih kepada efek samping obat yang berlebihan. Jadi buat yang belum tau dan butuh info ini bisa konsultasi ke departemen alergi di RSCM. Semoga postingan ini bermanfaat buat teman-teman.

Senin, 29 Agustus 2016

Jelang Tes Provokasi Obat

Malam ini rasanya nano-nano. Segala rasa tumpah ruah di dada tapi gak bisa meluapkan ini dalam tangis. Malam ini rasanya, entahlah.. Ada rasa takut, khawatir, segla rupa perasaan buruk yang rasanya enggan untuk diucapkan satu persatu.

Sehubungan dengan tindak lanjut untuk rencana cabut gigi, karena saya sensitif dengan banyak obat, tubuh saya tidak bisa menerima obat dengan dosis seharusnya. Paracetamol 500 mg aja saya cuma bisa minum seperempat tablet sekali minum, lebih dari itu saya bisa melayang, gemeteran, dada sesak, tubuh kebas. Jadi kalo mau nyabut gigi ini, saya mesti menjalani tes provokasi obat dulu. Obat bius yang mau dipake dalam proses cabut gigi mesti di tes dulu ke tubuh, mulai dari dosis terendah hingga batas yang dibutuhkan, kira-kira begitu deh tadi penjelasan dari dokternya saat saya konsul ke lab imunologi di RSCM.

Dalam tes itu nanti, akan terjadi berbagai jenis reaksi. Untuk kasus saya mungkin yaaa saya mesti menanggung rasa melayang dan lain-lain tadi.  Masih menurut dokter, resiko terburuk adalah fatal. Duh, perut saya langsung ngilu mendengar kata resiko fatal itu.

Ya Allah.. Saya berusaha menguatkan diri untuk mendengar penjelasan lebih lanjut dari dokter. Konsentrasi saya serta-merta terbagi, sambil dengerin dokter ngomong, hati saya mengucapkan dzikir dan do'a, sebagian lagi langsung inget anak-anak yang lagi ditinggal di Pekanbaru. Saya masih mau ketemu anak-anak. Jujur aja saya tidak siap dengan resiko buruk. Saya mau semuanya baik-baik saja, saya ingin semuanya berjalan lancar, saya ingin balik ke Pekanbaru dalam keadaan sehat. Banyak sekali mau saya ya Allah dan semua mau itu berujung pada satu saja, saya masih mau hidup dan membesarkan anak-anak 

Sekuat apapun saya berusaha menguatkan hati dan diri, malam ini, saya tidak bisa untuk tidak memikirkan apa yang akan saya hadapi besok. Segala kemungkinan berkelebat begitu saja di kepala. Ya Allah, bantu saya. Bantu saya melewati semua ini. Beri saya kekuatan. Beri saya kesembuhan. Beri saya kesempatan, untuk menjaga dan membesarkan anak-anak dg tubuh sehat, kuat, tidak kurang suatu apapun. Ampuni jika permintaan ini berlebihan. Saya hanya manusia biasa yang mempunyai rasa takut.

Kamis, 11 Agustus 2016

Semuanya Membaik

Iyah, alhamdulillah, semuanya mulai membaik. Setelah riweuh di RS selama kurleb 3 hari, dari kamis siang sampe minggu sore, finally dedek udah boleh pulang, karena udah gak mencret, udah mulai bisa makan, jadi udah bisa lepas infus. Tapi dedek masih lemeeees banget. Duh kasiaan... 😂
Di rumah, manjaaaa ampun-ampunan, bundanya gak boleh jauh-jauh, maunya pelukan aja. Sebentar tidur sebentar bangun. Usahaaa banget ngasih makan dikit-dikit. Perutnya masih gendut, masih kembung, trus sesekali masih mules. Tapi dari senin dedek gak pup sama sekali, baru rabu malem pup banyaaak, masih agak encer tapi udah mulai banyak ampasnya dan ada yang udah berbentuk juga, seneeeng liat bentuk pupnya, berarti ada kemajuan di perut 😊 #liat pup aja seneng 😝, begitulah emak-emak#

Truuss, sekarang malah ditambah batpil. Duh, kenapa coba ya dek, bertubi-tubi gini? Kayanya dedek Shaqeela nih kalo kondisi lagi drop, gampang kena apa-apa, jadinya penyakit meleber kemana-mana. Saya bener-bener mesti ekstra ngurusin dia, mana moodnya jelek banget, serba salah, mungkin karena badannya gak enak, perut masih melilit, laper tapi susah makan, oh iya ada sariawan juga satu di bibir kiri bawah, lumayan gede, jadi mau makan susaaah. Mana capek juga karena batuk terus, kompliiiiit deh 😢. Sabar ya dek, semoga semua ini cepat berlalu. Semoga setelah ini sehat terus, amiin ya rabbal 'alamiin.

Dedek emang bakat alerginya lebih besar dibanding Najla. Kepicu dikit langsung jadi. Tapi ya gimana, namanya anak-anak, kadang susah banget untuk ngasih pengertian bahwa dia punya beberapa pantangan makanan atau kegiatan. Kalo dia lagi pengen sesuatu, gak dikasih, ngamuk-ngamuk. Udah gitu dia bukan tipe gampang lupa. Setelah selesai ngamuk, inget lagi yang tadi diminta tapi gak dapet, ngulang lagi ngamuknya, begitu terus sampe dapet. Akhirnyaaa dengan terpaksa, dikasih juga deh. Jadi serba salah. Gak dikasih salah, dikasih salah. Kadang kalo udah terpaksa ngasih, saya cuma bisa lillahi ta'ala  aja, bismillah semoga dia baik-baik aja.

So far, menjaga balita emang gampang-gampang susah buat saya. Najla dulu waktu masih balita bolak-balik sakit. Mencretlah, demam tinggilah. Padahal rasanya saya udah melakukan dan memberikan yang terbaik buat dia. Malah temen saya bilang, mungkin karena terlalu dijaga makanya klo kena apa-apa gampang sakit? Jadinya gak imun? Nah loh, saya bingung 😂. Karena emang ada beberapa anak yang yaah dibiarin aja gitu ngapa-ngapain, tapi jarang sakit. Paling cuma batpil, ingus kemana-mana. Ahh, entahlah, saya gak bisa menyamakan anak saya dengan anak orang lain. Dari yang pernah saya baca-baca, tiap anak itu unik, tiap anak itu beda, jadi gak akan pernah sama persis, dan yaah, anggaplah ngurus anak sakit itu merupakan ujian buat saya, ujian buat seorang ibu agar bisa tabah, kuat dan survive. Karena perjalanan anak masih panjang, jadi masih akan ada hal-hal baru lagi berkenaan dengan urusan anak ini yang akan menjadi tanggungjawab saya, yang tidak akan mudah dijalani, yang gak akan mulus-mulus aja jalannya. Ya kaan, ya kaaaan? #nyenengin diri sendiri# 😁

Semoga cepet sembuh ya dek, biar bisa sekolah lagi, bisa main lagi, bisa nge-mall lagi kitaaaah, aamiin 😇

seneng banget saat tau boleh pulang, dia juga boseen bobo dikasur diiket infus 😄


Horeee, lepas infus!

 

TRAVEL AROUND AND STAY FOR A WHILE Template by Ipietoon Cute Blog Design